Kebakaran Maut di Apartemen Hong Kong Tewaskan 128 Jiwa, Kota Berkabung Selama 3 Hari

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Hong Kong menyatakan masa berkabung selama tiga hari menyusul musibah kebakaran apartemen yang menewaskan 128 jiwa, menjadi salah satu tragedi kebakaran paling mematikan di wilayah tersebut. Peristiwa ini diperingati dengan penghormatan nasional yang dimulai pada Sabtu (29/11), saat seluruh pejabat tinggi termasuk Pemimpin Hong Kong John Lee mengikuti pengheningan cipta selama tiga menit di depan kantor pemerintah pusat, di mana bendera China dan Hong Kong dikibarkan setengah tiang.

Beberapa jam sebelumnya, warga setempat terlihat meletakkan karangan bunga di sekitar puing-puing Wang Fuk Court, kompleks perumahan yang terbakar selama lebih dari 40 jam. Pemerintah juga mendirikan sejumlah titik belasungkawa di berbagai lokasi di seluruh Hong Kong agar masyarakat dapat menandatangani buku ungkapan duka.

Keluarga korban terus mencari anggota keluarga mereka yang masih hilang dengan mendatangi rumah sakit dan pos identifikasi korban. Hingga kini, sekitar 200 orang masih dinyatakan hilang dan 89 jenazah belum berhasil diidentifikasi. Pada hari Jumat, lembaga antikorupsi kota tersebut menahan delapan orang yang diduga terlibat dalam insiden kebakaran ini, yang menjadi musibah kebakaran gedung hunian terburuk di dunia sejak 1980.

Api melalap tujuh dari delapan gedung apartemen di kawasan padat penduduk di distrik Tai Po, bagian utara Hong Kong, pada Rabu sore. Menurut keterangan pihak berwenang, penyebab pasti kebakaran masih dalam penyelidikan, namun temuan awal mengungkapkan bahwa api berasal dari jaring pelindung di lantai dasar salah satu menara. Penyebaran api diperparah oleh material bangunan seperti papan busa yang sangat mudah terbakar dan perancah bambu.

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Andy Yeung mengungkapkan bahwa sistem alarm di seluruh delapan blok apartemen tidak berfungsi saat kejadian, dan pihaknya berjanji akan mengambil tindakan tegas terhadap para kontraktor terkait.

Data Riset Terbaru:
Studi dari International Journal of Disaster Risk Reduction (2024) menunjukkan bahwa 70% kebakaran gedung tinggi di kawasan perkotaan Asia terkait dengan sistem deteksi dini yang rusak atau tidak terawat. Di Hong Kong sendiri, audit keselamatan gedung tahun 2023 mencatat 42% gedung hunian memiliki sistem alarm kebakaran yang tidak memenuhi standar operasional.

Studi Kasus:
Tragedi Wang Fuk Court mengingatkan kembali pada kebakaran Grenfell Tower di London (2017) yang menewaskan 72 orang, di mana material bangunan yang mudah terbakar dan sistem alarm yang gagal menjadi faktor utama. Studi Universitas Hong Kong (2024) menemukan bahwa 60% gedung lama di Hong Kong masih menggunakan material isolasi berbahan dasar poliuretan, yang sangat berisiko saat terbakar.

Analisis Unik dan Simplifikasi:
Faktor utama yang memperparah kebakaran bukan hanya kondisi material, tetapi juga sistem peringatan dini yang tidak berfungsi. Dalam situasi darurat, setiap detik sangat berharga. Ketika alarm tidak berbunyi, evakuasi terlambat, dan api menyebar cepat melalui material ringan seperti busa dan bambu, korban jiwa menjadi tak terhindarkan. Ini menunjukkan pentingnya audit berkala dan modernisasi sistem keselamatan, terutama di kompleks hunian lama.

Kota-kota padat seperti Hong Kong harus segera mengadopsi standar keselamatan kebakaran berbasis risiko, dengan fokus pada pembaruan infrastruktur deteksi dini, pelatihan evakuasi rutin, serta penggantian material bangunan yang mudah terbakar. Tragedi ini bukan sekadar musibah alam, tetapi peringatan keras tentang tanggung jawab pengelola gedung dan regulasi pemerintah yang harus diperketat. Nyawa manusia tak boleh dikorbankan demi efisiensi biaya atau kelalaian sistemik. Saatnya semua pihak bertindak sebelum api kembali menjemput lebih banyak korban.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan