Kabupaten Tasikmalaya Dinilai Rawan Bencana, Pelatihan Kebencanaan Ditingkatkan untuk Pengurangan Risiko

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

TASIKMALAYA, Thecuy.com — Wilayah Kabupaten Tasikmalaya dikenal sebagai salah satu kawasan dengan tingkat kerentanan bencana yang sangat tinggi di Indonesia. Di tingkat provinsi Jawa Barat, daerah ini masuk dalam tiga besar wilayah paling rawan bencana, dengan berbagai ancaman seperti gempa, tsunami, longsor, banjir, dan pergerakan tanah yang selalu mengintai.

Salah satu kecamatan dengan risiko paling kritis adalah Cipatujah, yang berbatasan langsung dengan Samudra Hindia sehingga rentan terhadap ancaman tsunami. Selain itu, kondisi geografisnya yang terdiri dari perbukitan curam dan aliran sungai besar membuat wilayah ini juga sering dilanda banjir dan tanah longsor.

Dalam upaya meningkatkan ketangguhan masyarakat, Pemerintah Desa Nagrog berkolaborasi dengan FK Tagana Kabupaten Tasikmalaya menyelenggarakan pelatihan penanganan bencana. Kegiatan ini ditujukan bagi masyarakat umum dan relawan Kampung Siaga Bencana (KSB) di Desa Nagrog, Kecamatan Cipatujah, dengan tujuan memperkuat kapasitas tanggap darurat dan membangun kesadaran kolektif terhadap ancaman bencana.

Ayatullah Romdoni, Wakil Ketua FK Tagana Kabupaten Tasikmalaya, menjelaskan bahwa penentuan Cipatujah sebagai lokasi pelatihan didasarkan pada data risiko bencana yang signifikan. Ia menekankan bahwa potensi tsunami menjadi ancaman utama, terlebih dengan posisi geografis kecamatan yang langsung menghadap laut lepas.

“Di Cipatujah memang berpotensi terjadi tsunami, namun selain itu beberapa desa di kawasan ini juga sangat rentan longsor dan banjir karena berada di kawasan pegunungan tebing yang labil serta dilalui aliran sungai besar,” ujar Ayat.

Desa Nagrog sendiri tercatat sebagai wilayah dengan tingkat kerentanan longsor yang tinggi, lantaran banyaknya tebing dan perbukitan yang tidak stabil serta didominasi struktur batuan yang rapuh. Kondisi ini semakin mengkhawatirkan saat musim hujan dengan intensitas tinggi, yang kerap memicu longsor dan meluapnya sungai hingga menyebabkan banjir.

“Kejadian longsor di wilayah kabupaten memang sering terjadi saat hujan deras dalam durasi panjang. Banjir juga bisa terjadi akibat luapan sungai di Cipatujah, terutama saat curah hujan melebihi kapasitas tampung,” imbuhnya.

Pelatihan ini dirancang tidak hanya untuk memberikan keterampilan teknis penanganan bencana, tetapi juga membangun kesiapsiagaan mental dan koordinasi antarrelawan serta masyarakat. Dengan bekal pengetahuan dan simulasi yang memadai, diharapkan warga dapat merespons dengan cepat, tepat, dan terorganisir saat bencana terjadi, baik dalam evakuasi maupun penanganan pasca-bencana.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat tahun 2024, lebih dari 60% kejadian bencana di wilayah pesisir selatan Jawa Barat dipicu oleh faktor cuaca ekstrem dan kondisi geologis yang tidak stabil. Studi dari Pusat Studi Bencana Universitas Padjadjaran (2023) juga mencatat bahwa partisipasi masyarakat dalam program kesiapsiagaan meningkatkan efektivitas respons bencana hingga 70%. Sebuah studi kasus di Desa Cikakak, Garut, menunjukkan bahwa desa dengan program KSB aktif mampu mengevakuasi warga 40% lebih cepat dibanding desa tanpa program serupa.

Kesiapsiagaan bukan tentang menunggu bencana datang, tapi tentang membangun ketangguhan sebelum bencana terjadi. Dengan pengetahuan, latihan, dan solidaritas, masyarakat bisa berubah dari korban menjadi pelaku keselamatan. Mulailah dari lingkungan terdekat, karena setiap tindakan kecil hari ini bisa menyelamatkan banyak nyawa di masa depan.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan