Anggota Polda Riau Tewas dan 2 Orang Hilang dalam Bencana Longsor di Sumatera Barat

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Kepolisian Daerah (Polda) Riau tengah mengalami musibah besar setelah dua anggotanya menjadi korban bencana alam banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi di wilayah Padang, Sumatera Barat. Peristiwa tragis ini menimpa personel Direktorat Reserse Kriminal Umum (Reskrimum) Polda Riau yang sedang dalam perjalanan dinas.

Korban yang teridentifikasi adalah Brigadir Tri Irwansyah, yang dinyatakan meninggal dunia, dan Ipda Angga Mujafar yang hingga kini masih dalam pencarian intensif oleh Tim SAR gabungan. Kombes Anom Karibianto, selaku Kabid Humas Polda Riau, membenarkan kejadian ini dan menyampaikan bahwa jenazah Brigadir Tri telah berhasil dievakuasi, sedangkan Ipda Angga masih belum ditemukan.

Peristiwa tersebut terjadi pada Kamis (27/11/2025) sekitar pukul 11.30 WIB di Jembatan Kembar, Kelurahan Silaing Bawah, Kecamatan Padang Panjang Barat, Kota Padang. Saat itu, ketiga personel Polda Riau, terdiri dari dua polisi dan satu sopir PHL, sedang dalam perjalanan dari Pekanbaru menuju Padang menggunakan minibus hitam dengan nomor polisi BM-1370-AAJ. Kendaraan mereka ditemukan hancur dan tertimbun lumpur tak jauh dari lokasi kejadian.

Arus banjir bandang yang datang tiba-tiba dari arah pegunungan membawa material berbahaya seperti lumpur, batu besar, dan potongan kayu dalam volume masif. Debit air yang sangat deras langsung menyapu segala sesuatu di jalurnya, termasuk warga yang sedang melintas dan kendaraan yang ada di sekitar jembatan. Dalam situasi kacau ini, Brigadir Tri dan Ipda Angga terbawa arus dan tertimbun material longsor.

Jenazah Brigadir Tri Irwansyah telah dievakuasi dan dibawa ke RS Bhayangkara Polda Sumatera Barat untuk proses identifikasi lebih lanjut. Sementara itu, upaya pencarian terhadap Ipda Angga Mufajar terus dilakukan secara intensif oleh tim gabungan yang terdiri dari Basarnas, TNI-Polri, serta sejumlah relawan. Mereka menyisir aliran sungai dan menggunakan alat berat untuk membuka akses yang tertutup material longsor.

Cuaca yang terus diguyur hujan menjadi tantangan tersendiri dalam operasi pencarian. Kondisi tanah yang masih labil dan risiko longsor susulan membuat tim penyelamat harus bekerja dengan ekstra hati-hati. Hingga kini, keberadaan Ipda Angga masih menjadi tanda tanya, dengan dugaan kuat ia tertimbun dalam material longsor dan lumpur yang sangat tebal.

Data Riset Terbaru 2024 dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Barat mencatat peningkatan frekuensi banjir bandang sebesar 37% dalam lima tahun terakhir, terutama dipicu oleh perubahan iklim dan deforestasi di kawasan hulu. Studi dari Universitas Andalas (2023) juga menunjukkan bahwa wilayah pegunungan di Sumatera Barat berada pada kategori rawan sangat tinggi untuk longsor, terutama saat musim hujan.

Studi kasus serupa terjadi pada 2022 di Kabupaten Solok, di mana banjir bandang juga menyebabkan kerusakan infrastruktur parah dan korban jiwa. Analisis menunjukkan bahwa minimnya sistem peringatan dini dan kurangnya pemahaman masyarakat tentang mitigasi bencana turut memperparah dampak.

Saat bencana datang, tak ada yang bisa ditebak. Namun, kesiapsiagaan dan solidaritas menjadi benteng terkuat melawan musibah. Mari terus doakan keselamatan para korban dan keberhasilan tim SAR. Di tengah duka, semangat kemanusiaan harus tetap menyala.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan