Prabowo Menuntut Penghilangan Gunung Sampah Bantar Gebang

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Presiden Prabowo Subianto telah menginstruksikan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) untuk berperan aktif dalam mengatasi masalah tumpukan sampah yang semakin besar di Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat. Salah satu solusi yang diusulkan adalah melakukan konversi sampah menjadi bahan bakar.

Menteri PU, Dody Hanggodo, mengakui bahwa masalah sampah bukanlah hal baru, namun upaya pengolahan tetap menghadapi berbagai kendala. Tumpukan sampah yang terus bertambah akhirnya membentuk gunung sampah, seperti yang terjadi di Bantar Gebang.

“Keadaannya memburuk di Bantar Gebang, dan Pak Presiden Prabowo sudah memberikan perintah kepada kami untuk segera mengatasi tumpukan sampah tersebut,” ucap Dody dalam acara Puncak Hari Habitat Dunia di Sekolah Rakyat Menengah Atas 13, Bekasi, Jawa Barat, Senin kemarin.

Dalam upayanya, Dody menjelaskan bahwa Kementerian PU telah mempersiapkan beberapa strategi, termasuk mengubah sampah menjadi energi listrik melalui pembakaran. Ini merupakan bagian dari Program Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL).

Sampah yang tidak dapat diolah lebih lanjut akan dibakar dan dikonversi menjadi listrik, sedangkan sampah lainnya akan diubah menjadi bahan bakar alternatif seperti gas atau kompos.

“Nantinya, tumpukan sampah yang sudah menjadi gunung akan kami bakar dan konversi menjadi listrik. Dengan demikian, insya Allah, masalah ini akan segera teratasi,” jelasnya.

“Karena jika sampah terus menggunung, akhirnya akan membahayakan lingkungan. Jika hujan turun, banjir akan terjadi, dan jika air laut naik sedikit, masalah banjir juga akan semakin parah,” tambahnya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Cipta Karya Kementerian PU, Dewi Chomistriana, menjelaskan bahwa Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang berada di bawah tanggung jawab Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Namun, Kementerian PU juga turut menyediakan alat pemusnah sampah atau insinerator, hasil kerjasama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

“Di Bantar Gebang, fasilitas pengelolaan sampah sudah lengkap, termasuk komposting, landfill mining, insinerator kecil, dan TPST RDF. Namun, volume sampah yang harus ditangani memang sangat besar,” kata Dewi setelah acara berakhir.

Untuk mengatasi masalah ini, Dewi mengungkapkan bahwa pihaknya bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta untuk mengoptimalkan operasi Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) di Jakarta.

“Ada upaya untuk meningkatkan kegiatan TPS3R di wilayah DKI, sehingga beban sampah yang berakhir di Bantar Gebang dapat dikurangi,” ujarnya.

Selain itu, Pemprov DKI juga berencana untuk mempercepat program PSEL. Pemerintah Presiden Prabowo Subianto juga memberikan subsidi kepada PT PLN (Persero) untuk menyerap listrik dari proyek waste to energy sebesar US$ 20 sen per kWh.

Upaya lain yang digencarkan adalah konversi sampah di Bantar Gebang menjadi bahan bakar yang dihasilkan dari sampah (RDF). RDF merupakan bahan bakar alternatif yang dibentuk dari sampah non-organik seperti plastik, kain, dan kertas.

“Sekarang, mereka (DKI) telah memulai kegiatan landfill mining. Sampah yang terendam di lapisan bawah gunung dibuka terlebih dahulu untuk meredam metana, kemudian diolah menjadi RDF, dan produk ini sudah mereka jual,” penutup Dewi.

Pemerintah harus lebih berani mengimplementasikan solusi inovatif dalam pengelolaan sampah. Dengan teknologi modern dan kerja sama antarlembaga, Indonesia bisa menjadi contoh dunia dalam menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat.

Baca Berita dan Informasi Finance lainnya di Finance Page

Tinggalkan Balasan