Meskipun banyak yang berpikir air putih tidak memiliki rasa apa-apa, sebenarnya setiap air memiliki cita rasa yang berbeda. Beberapa air bisa terasa manis, pahit, atau bahkan agak asin. Perbedaan ini tidak terjadi karena sugesti, melainkan karena kandungan mineral yang berbeda-beda di dalamnya.
Air minum terdiri dari lebih dari hanya H₂O murni. Berbagai mineral seperti kalsium, magnesium, natrium, bikarbonat, dan sulfat hadir di dalamnya. Komposisi mineral ini bervariasi tergantung pada sumber air, jenis batuan yang dilewati, dan proses pengolahan yang dilakukan. Hal ini yang membuat setiap air memiliki karakter rasa yang unik.
Penelitian yang diterbitkan di jurnal Water Research pada tahun 2020 menunjukkan bahwa ion-ion dalam air mempengaruhi bagaimana kita merasakan air tersebut. Beberapa mineral tertentu dapat menimbulkan sensasi manis, asin, hingga pahit. Selain itu, jumlah total padatan terlarut (TDS) juga mempengaruhi rasa air. Jika TDS terlalu rendah, air akan terasa hambar, sedangkan jika terlalu tinggi, air bisa terasa tidak segar.
Sodium (Na⁺) dalam air akan memberikan rasa asin. Air tanah di daerah pesisir sering memiliki kadar natrium yang tinggi karena pengaruh air laut. Kalsium (Ca²⁺) memberikan rasa agak pahit namun segar. Meskipun baik untuk tulang, dalam konsentrasi tinggi di air, kalsium bisa membuat rasa air sedikit pahit.
Air yang kaya akan bikarbonat (HCO₃⁻) biasanya terasa manis dan lembut. Bikarbonat juga membantu menurunkan keasaman, sehingga rasa air tidak terlalu tajam. Banyak air dari pegunungan yang terasa manis karena kandungan bikarbonatnya yang tinggi.
Magnesium (Mg²⁺) memberikan sedikit rasa pahit, tetapi air yang mengandung magnesium tetap segar. Sulfat (SO₄²⁻) menimbulkan rasa getir atau pahit di ujung lidah. Jika kadarnya terlalu tinggi, air bisa terasa tidak enak dan menyebabkan efek pencahar ringan.
Air yang berasal dari pegunungan, sumur, atau sistem penyulingan memiliki profil rasa berbeda karena melalui jalur yang berbeda. Misalnya, air dari daerah kapur akan mengandung lebih banyak kalsium dan magnesium, sedangkan air yang melewati batuan vulkanik kaya akan bikarbonat. Proses perjalanan air di alam juga berpengaruh besar, karena air akan melarutkan mineral di sepanjang jalurnya. Oleh karena itu, air dari dua sumber berbeda, meskipun sama-sama jernih, bisa memiliki rasa yang berbeda.
Filtrasi juga mempengaruhi rasa air. Jika air disaring terlalu banyak hingga kehilangan mineralnya, air bisa terasa hambar. Beberapa merek air mineral menambahkan kembali mineral atau melakukan remineralisasi untuk mempertahankan rasa segar dan alami.
Meski tidak berwarna dan tidak beraroma, air tetap bisa menstimulasi reseptor rasa di lidah. Penelitian dari Jurnal Chemical Senses tahun 2018 menjelaskan bahwa lidah manusia memiliki reseptor yang peka terhadap perubahan ion di dalam air. Saat air dengan komposisi mineral tertentu menyentuh lidah, reseptor merespons perubahan pH dan elektrolit, lalu mengirim sinyal ke otak sebagai sensasi rasa. Itu sebabnya, seseorang bisa membedakan air mineral alami dengan air sulingan hanya dari sensasi di mulut.
Orang yang sering meminum air mineral alami dapat lebih mudah mengenali perbedaan kecil dalam rasa air, seperti saat air terasa agak manis karena bikarbonat atau lebih hambar karena kehilangan mineral. Suhu air juga mempengaruhi persepsi rasa. Air dingin bisa menekan sensasi getir atau asin, sementara air suhu ruang bisa membuat mineral di dalam air lebih mudah terdeteksi oleh reseptor lidah.
Air mineral tidak hanya tentang kebutuhan hidrasi, tetapi juga pengalaman rasa yang unik. Setiap botol bisa menjadi perjalanan sensori yang berbeda, mengajak kita untuk lebih memperhatikan keanekaragaman sumber air di sekitar kita. Pertanyaan yang menarik: Apakah kamu pernah mencoba membedakan air dari sumber yang berbeda? Bagaimana pengalamanmu?
Baca Berita dan Info Kesehatan lainnya di Seputar Kesehatan Page

Saya adalah jurnalis di thecuy.com yang fokus menghadirkan berita terkini, analisis mendalam, dan informasi terpercaya seputar perkembangan dunia finansial, bisnis, teknologi, dan isu-isu terkini yang relevan bagi pembaca Indonesia.
Sebagai jurnalis, saya berkomitmen untuk:
Menyajikan berita yang akurasi dan faktanya terverifikasi.
Menulis dengan bahasa yang mudah dipahami, namun tetap menjaga integritas jurnalistik.
Menghadirkan laporan mendalam yang memberi perspektif baru bagi pembaca.
Di thecuy.com, saya tidak hanya melaporkan berita, tetapi juga berupaya menganalisis tren agar pembaca dapat memahami konteks di balik setiap peristiwa.
📌 Bidang Liputan Utama:
Berita Terbaru & ekonomi, keuangan.
Perkembangan teknologi dan inovasi digital.
Tren bisnis dan investasi.
Misi saya adalah membantu pembaca mendapatkan informasi yang cepat, akurat, dan dapat dipercaya, sehingga mereka bisa membuat keputusan yang lebih cerdas dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia usaha.
📞 Kontak
Untuk kerja sama media atau wawancara, silakan hubungi melalui halaman Kontak thecuy.com atau email langsung ke admin@thecuy.com.