Setelah satu tahun berlalu, Radar telah melaporkan tentang polusi yang melanda Kelurahan Tamansari, Kecamatan Tamansari, Kota Tasikmalaya. Pada saat itu, Sungai Cipajaran menjadi pusat perhatian karena airnya berubah warna, menghasan bau yang tidak sedap, ikan di kolam warga pun mati, dan kulit warga berkadar gatal setiap kali menyentuh air.
Pada tahun ini, meskipun sungai masih terus mengalir, kehidupan di sekelilingnya telah berubah total. Di Kampung Sinargalih RW 7, air sungai tak lagi sepekat seperti dulu. Namun, kekuatan aroma limbah masih terkadang terserap bersama angin sore. Warga sudah tidak lagi mengharapkan perbaikan ajaib dan sudah terbiasa menutup rapat pintu rumah mereka agar bau tidak masuk.
“Sekarang kondisinya lebih baik daripada dulu, tetapi masih sering ada bau. Warna airnya juga berkembang, kadang-kadang tampak berbusa,” ujar Agus, Ketua RW 7, saat dihubungi Senin (21/10/2025).
Namun, warga tidak hanya mengalami pencemaran, tetapi juga perubahan dalam gaya hidup yang tidak pernah mereka duga. Dulu, Sungai Cipajaran bukan hanya tempat air mengalir, tetapi juga tempat bermain anak-anak, daerah ibunda mencuci pakaian sambil mengobrol, dan sumber penghidupan bagi ratusan keluarga yang bergantung pada kolam ikan di tepi sungai. Sekarang, semua hal tersebut sudah menjadi masa lalu.
“Dulu setiap sore padat, anak-anak mandi, saling bermain perahu daun, dan tertawa di sungai. Sekarang sudah tidak ada lagi, tak ada yang berani mendekat,” kata Eruh Ruhyati (55), warga yang telah tinggal di tepi sungai sejak kecil.
Kolam ikan di belakang rumah sekarang sudah kering dan retak. Dari ratusan kolam, hampir tidak ada lagi yang masih berisi benih ikan.
“Airnya tidak dapat digunakan. Jika diisi ikan, pasti akan mati,” tambahnya dengan nada yang sedih.
Pencemaran yang awalnya dianggap sementara ternyata meninggalkan bekas yang panjang, tidak hanya pada air tetapi juga pada budaya hidup masyarakat. Warga kehilangan kebiasaan yang selama puluhan tahun menjadi identitas kampung mereka.
Selain kehilangan kebiasaan, warga juga kehilangan kesempatan. Kolam ikan yang dulu menjadi sumber pendapatan kini telah menjadi kubangan kering. Beberapa warga yang dulu beternak ikan kini terpaksa beralih profesi menjadi buruh harian atau pedagang kecil.
Masyarakat di tepi Sungai Cipajaran telah mengalami pergeseran yang signifikan. Pencemaran air tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga merobohkan struktur sosial dan ekonomi masyarakat. Kehilangan sumber penghidupan dan aktivitas harian yang banyak dijalankan di tepi sungai memaksa warga untuk beradaptasi dengan situasi baru. Kini, mereka harus mencari cara alternatif untuk menjalankan kehidupan sehari-hari, namun trauma dan dampak pencemaran tetap mengganggu kehidupan mereka. Pencemaran air adalah masalah yang kompleks yang membutuhkan solusi jangka panjang untuk memulihkan tidak hanya lingkungan, tetapi juga kehidupan masyarakat yang terpengaruh.
Baca juga Berita lainnya di News Page

Saya adalah jurnalis di thecuy.com yang fokus menghadirkan berita terkini, analisis mendalam, dan informasi terpercaya seputar perkembangan dunia finansial, bisnis, teknologi, dan isu-isu terkini yang relevan bagi pembaca Indonesia.
Sebagai jurnalis, saya berkomitmen untuk:
Menyajikan berita yang akurasi dan faktanya terverifikasi.
Menulis dengan bahasa yang mudah dipahami, namun tetap menjaga integritas jurnalistik.
Menghadirkan laporan mendalam yang memberi perspektif baru bagi pembaca.
Di thecuy.com, saya tidak hanya melaporkan berita, tetapi juga berupaya menganalisis tren agar pembaca dapat memahami konteks di balik setiap peristiwa.
📌 Bidang Liputan Utama:
Berita Terbaru & ekonomi, keuangan.
Perkembangan teknologi dan inovasi digital.
Tren bisnis dan investasi.
Misi saya adalah membantu pembaca mendapatkan informasi yang cepat, akurat, dan dapat dipercaya, sehingga mereka bisa membuat keputusan yang lebih cerdas dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia usaha.
📞 Kontak
Untuk kerja sama media atau wawancara, silakan hubungi melalui halaman Kontak thecuy.com atau email langsung ke admin@thecuy.com.