Raja Faisal Arab Saudi Dibunuh saat Coba Peluk Keponakannya

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Ingatan yang tak akan pernah hilang itu dinyatakan Dr. Mai Yamani saat mengingat peristiwa penembakan Raja Faisal dari Arab Saudi pada tahun 1975. Saat itu, ia baru berusia delapan belas tahun dan tengah duduk di tempat tinggal ayahnya yang penuh dengan buku-buku. Tiba-tiba, ayahnya pulang dengan ekspresi wajah yang tidak biasa, penuh dengan kesedihan. Syekh Ahmed Zaki Yamani, yang selalu tenang dan berbicara santun, langsung kehilangan kendali saat masuk rumah.

“Dia langsung berteriak, hanya bisa mengucapkan satu kata: ‘bencana!'” kata Mai kepada BBC. Syekh Yamani, yang selalu setia pada raja selama menjabat sebagai menteri selama 15 tahun, menjadi saksi mata tragis tersebut. Ia berdiri dekat dengan raja ketika keponakan raja menembak pamannya dari jarak dekat sebanyak tiga kali. “Bayangkan ia berdiri di samping mentornya, gurunya, temannya, dan melihatnya ditembak di sana, begitu dekat,” ungkap Mai.

Meski segera diantar ke rumah sakit dan berbagai upaya dilakukan, tembakan yang mengenai kepala raja menjadi fatal. Setelah kejadian itulah, seluruh kota Riyadh menjadi sunyi, jalan-jalan kosong tanpa sebutir pasir.

Kronologi peristiwa tersebut dibangun kembali oleh Mai Yamani melalui cerita ayahnya. Raja Faisal dijadwalkan bertemu dengan delegasi minyak dari Kuwait pada pukul 10.00 pagi di istana. Syekh Yamani ikut mendampingi karena berkaitan dengan posisinya sebagai Menteri Perminyakan. Ketika delegasi dan keponakan raja, Pangeran Faisal bin Musaed, tiba, ia langsung mengeluarkan pistol dan menembak raja tiga kali di kepala. Salah satu pengawal langsung memukul pangeran dengan pedang, namun Syekh Yamani menghentikan aksi itu.

Pangeran Faisal bin Musaed ditangkap dan diinterogasi. Ia tetap tenang sebelum dan setelah peristiwa itu. Hasil pemeriksaan dokter dan psikiater menunjukkan bahwa ia menderita gangguan mental. Meskipun demikian, ia tetap dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman penggalan di alun-alun umum Riyadh pada Juni 1975.

Menurut Mai, alasan sebenarnya dari pembunuhan raja belum diketahui, selain fakta bahwa pelakunya menderita gangguan jiwa. Beberapa spekulasi muncul, termasuk untuk membalas kematian kakak laki-lakinya, Khalid, dalam bentrokan dengan pasukan keamanan pada 1966. Namun, pemeriksaan lanjutan menunjukkan pelaku bertindak sendiri.

Setelah kematian raja, Raja Khalid, saudara kandungnya, menggantikan posisinya. Syekh Yamani terus menjabat sebagai Menteri Perminyakan hingga 1986. Raja Faisal menjadi raja pada 1964 setelah perebutan kekuasaan dengan saudaranya, Saud. Sebelum itu, ia ikut aktif dalam kampanye ayahnya untuk menyatukan Semenanjung Arab. Selama pemerintahannya, ia bertekad memodernisasi negara dan mengarahkan kekayaan minyak untuk pengembangan pendidikan, kesehatan, dan peradilan.

Suatu waktu, ia membuka sekolah untuk perempuan, yang didirikan oleh istrinya, Iffat. Mai Yamani sendiri merupakan salah satu siswa pertama di sekolah tersebut. Meski menghadapi perlawanan dari pihak konservatif, Faisal terus melanjutkan reformasi. Ia juga membuka stasiun televisi pertama, yang akibatnya diserang oleh kelompok yang dipimpin saudara pelaku pembunuhan raja.

Penunjukan Syekh Yamani sebagai menteri juga mengejutkan, karena ia bukan bagian keluarga kerajaan. Raja Faisal tertarik padanya setelah membaca artikel yang ditulisnya. Bersama raja, Syekh Yamani merumuskan kebijakan memberikan kendali penuh atas aset minyak. Setelah perang 1973, Arab Saudi memimpin kampanye untuk mengurangi pasokan minyak ke negara pendukung Israel, yang menyebabkan harga minyak dunia naik. Syekh Yamani juga menjadi konsultan untuk bank dan perusahaan minyak setelah pensiun.

Raja Faisal dikenal sebagai politisi cerdas, saleh, dan reformis. Dia meninggalkan warisan yang kuat dalam pengembangan pendidikan dan kesejahteraan masyarakat. Terlepas dari tragisnya kematiannya, Faisal tetap diingat sebagai pemimpin yang berani dan visioner. Pengalaman Mai Yamani sebagai anak saksi mata peristiwa ini memberikan wawasan yang berharga tentang sejarah Arab Saudi yang kompleks dan transformatif.

Mempertahankan keberanian dalam menghadapi perubahan dan reformasi adalah kunci untuk membangun masa depan yang lebih baik, seperti yang ditunjukkan oleh Raja Faisal dalam usahanya memodernisasi negara.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan