Apple baru saja meluncurkan seri iPhone 17, dengan varian iPhone 17 Pro dan Pro Max yang dilengkapi dengan chipset A19 Pro. Chipset ini dibangun menggunakan teknologi node 3nm dan memiliki konfigurasi inti yang mirip dengan model sebelumnya, yaitu dua inti performa dan enam inti efisiensi. Namun, Apple membangkitkan performa berkelanjutan yang lebih baik melalui sistem manajemen termal baru yang dilengkapi vapor chamber berisi air deionisasi. Perusahaan menyatakan bahwa kinerja ini mampu bertahan hingga 40% lebih lama dibandingkan generasi sebelumnya ketika digunakan untuk aktivitas intensif seperti gaming. Perbedaan ini tidak berarti chipset A19 Pro 40% lebih cepat dari A18 Pro, melainkan kemampuannya untuk mengeksekusi tugas berat tanpa significant throttling.
Meskipun teknologi vapor chamber bukanlah baru di pasar smartphone Android, kehadirannya di iPhone menunjukkan upaya Apple untuk mengatasi masalah pendingin yang sering menjadi kritikan. Peningkatan performa ini menjadi poin utama yang diangkat Apple, terutama setelah sering mendapat kritik terkait penurunan performa akibat overheating.
Selain vapor chamber, chipset A19 Pro juga memperkenalkan peningkatan pada arsitektur CPU. Hasil uji coba Geekbench menunjukkan kemampuan CPU meningkat sekitar 10-15%, dengan frekuensi clock mencapai 4.26GHz. Meskipun peningkatan IPC tidak terlalu signifikan, tambahan performa tahunan ini tetap relevan, terutama dengan ekspektasi peningkatan GPU yang lebih besar. Di sisi efisiensi, inti efisiensi di A19 Pro mendapatkan tambahan cache sebesar 50%, yang diharapkan bisa memanjang durasi penggunaan baterai. Dengan kombinasi ini, A19 Pro kembali menduduki puncak dalam skor CPU, setelah sebelumnya tersaingi oleh Qualcomm dengan desain kustom lengkap.
Di bidang AI, Apple mengintegrasikan Neural Accelerator pada setiap inti GPU A19 Pro, yang diklaim mampu meningkatkan komputasi AI hingga empat kali lipat. Neural Engine baru berinti 16 juga ditambahkan, bersama dengan peningkatan bandwidth memori untuk mengatasi beban kerja berbasis AI. Apple bahkan mengklaim bahwa A19 Pro mampu bersaing dengan MacBook dalam menjalankan tugas AI. Namun, meskipun demikian, Apple masih ketinggalan dari Google dalam hal utilitas AI di perangkat. Tensor G5 di Pixel 10 Pro XL, misalnya, didesain dengan fokus pada NPU, sedangkan Apple belum menjadikannya prioritas utama. Google juga memiliki suite AI yang lebih matang, seperti mesin Veo 3 untuk konversi gambar ke video.
Kompetisi chipset mobile semakin sengit dengan hadirnya A19 Pro. Qualcomm dan MediaTek diperkirakan akan segera merilis platform generasi berikutnya untuk merespons klaim Apple ini. Pengguna bisa mengharapkan peningkatan performa dan efisiensi yang lebih mendalam di segmentasi smartphone high-end. Dengan desain unibody aluminium, peningkatan internal, dan kamera yang lebih canggih, iPhone 17 Pro dan Pro Max menjadi pilihan upgrade yang menarik tahun ini. Varian iPhone 17 Air juga mengusung chipset Pro, menjadikannya pilihan premium dengan dukungan performa yang luar biasa.
Menghadapi masa depan yang semakin kompetitif, Apple terus mengembangkan teknologi yang inovatif. Dengan A19 Pro, perusahaan ini tidak hanya meningkatkan performa, tetapi juga memastikan pengalaman pengguna yang lebih optimal. Setiap perbaikan yang dilakukan tidak hanya menjawab kritik, tetapi juga membuka peluang baru bagi pengalaman mobile yang lebih canggih. Dalam era dimana teknologi berkembang dengan cepat, Apple tetap menjadi pemain utama yang terus berpikir di luar kotak, memberikan solusi yang tidak hanya berkelas dunia, tetapi juga berorientasi pada kebutuhan pengguna.
Baca juga Info Gadget lainnya di Info Gadget terbaru

Penulis Berpengalaman 5 tahun.