Peningkatan Literasi Budaya: Fadli Zon Merilis Buku Taksu Keris Bali

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Menteri Kebudayaan Indonesia, Fadli Zon, bersama Basuki Teguh Yuwono, Staf Khusus Menteri Bidang Sejarah dan Pelindungan Warisan Budaya, merilis buku berjudul Taksu Keris Bali. Acara peluncuran ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Harmoni Pemajuan Kebudayaan.

Dalam pidato di Neka Art Museum Ubud, Fadli Zon menekankah pentingnya literasi sebagai dasar pengembangan budaya. “Untuk mendorong perkembangan kebudayaan, literasi harus diutamakan. Saat ini, buku-buku terkait budaya masih terbatas. Kegiatan menulis dan penelitian di bidang seni dan budaya perlu didorong lebih lanjut agar dapat menjadi sumber edukasi yang berkualitas. Khususnya buku-buku yang bisa dijadikan referensi bagi generasi milenial dan generasi Z,” ujarnya, Selasa (2/9/2025).

Buku ini ditulis untuk mengembangkan literasi budaya di Indonesia. Isinya menceritakan tentang keris sebagai benda pusaka yang melambangkan nilai, keyakinan, dan kekuatan spiritual dalam kehidupan masyarakat Bali. Selain itu, buku ini juga menjelaskan proses penciptaan, filosofi bentuk, tuah, serta peran keris dalam ritual dan kehidupan spiritual.

“Dengan buku ini, kami ingin menggali nilai-nilai yang tertanam di dalam keris, melampaui bentuk fisiknya. Hal-hal seperti makna, nilai, tuah, dan kekuatan spiritual yang terkait dengan proses pembuatan, upacara, dan peran keris dalam kegiatan spiritual dibahas secara mendalam. Semoga informasi ini bisa memberikan wawasan lebih tentang pentingnya keris dari segi budaya yang tidak terlihat,” katanya.

Fadli Zon juga mengajak generasi muda untuk memahami bahwa keris bukan hanya warisan leluhur, tetapi juga sumber nilai yang tetap relevan. “Budaya harus terus berkembang, karena budaya adalah elemen yang mempersatukan bangsa,” tambahnya.

Selanjutnya, Fadli Zon menyoroti peran keris Bali dalam diplomasi budaya negara. “Keris Bali memiliki nilai seni dan filosofis yang luar biasa. Sebagai warisan budaya tak benda yang diakui UNESCO, keris tidak hanya karya seni, tetapi juga simbol persahabatan dan penghormatan. Presiden Prabowo Subianto sering menyampaikan keris Bali kepada pemimpin dunia,” jelasnya.

Dalam acara yang sama, Fadli Zon melantik Koordinator Wilayah Sekretariat Nasional Perkerisan Indonesia (SNKI) Provinsi Bali. Langkah ini bertujuan untuk memperkuat jaringan organisasi yang saat ini mengelola lebih dari 220 paguyuban keris di seluruh Indonesia.

Selain itu, Uji Kompetensi Bidang Keris juga dilaksanakan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP). Uji kompetensi ini dirancang untuk menstandarisasi profesi di bidang perkerisan, termasuk pencipta keris, konservator keris, dan kurator keris.

Buku ini bukan hanya tentang sejarah keris, tetapi juga tentang cara keris membentuk identitas dan budaya masyarakat Bali hingga saat ini. Sebagai warisan tak benda, keris Bali tidak hanya berharga dari segi seni, tetapi juga dari nilai-nilai spiritual dan filosofis yang terkandung di dalamnya. Generasi muda perlu memahami bahwa keris tidak hanya objek museum, tetapi simbol yang hidup dan terus berperan dalam kehidupan masyarakat.

Keris Bali telah menjadi media diplomasi budaya yang efektif, menghubungkan Indonesia dengan berbagai negara. Melalui keris, Indonesia dapat menjaga dan mengembangkan budaya dalam konteks global. Upaya pemajuan kebudayaan tidak hanya tentang penelitian, tetapi juga tentang pengalaman langsung, seperti yang ditawarkan oleh buku ini. Mari kita jaga dan bangun budaya kita agar terus berkembang menjadi kekuatan yang mempersatukan bangsa.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan