Ortu Wajib Mengetahui: Tahapan Gejala Ruam Campak pada Anak

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Campak adalah salah satu penyakit yang sering disalahartikan karena gejalanya yang mirip dengan penyakit lain. Demam, ruam, dan radang adalah tiga gejala utama yang umumnya dialami oleh penderita campak. Namun, seringkali gejala ini juga ditemukan pada penyakit lainnya, sehingga diperlukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mendapatkan kesimpulan yang pasti.

Untuk menentukan apakah seseorang terkena campak, dokter akan melakukan anamnesis terkait gejala yang dialami, riwayat kontak dengan penderita campak, dan hasil laboratorium. “Dokter akan menanyakan tanggal gejala pertama muncul, jenis demam yang dialami, apakah ada riwayat kontak dengan penderita campak, dan hasil laboratorium akan mendukung atau membantah diagnose tersebut,” kata Prof Dr dr Edi Hartoyo, SpA, SubspKardio(K), dalam Seminar KLB Campak pada Anak dan Update Rekomendasi Vaksinasi IDAI, Rabu (27/8/2025).

Penyakit campak melalui tiga tahap: prodromal, ruam, dan penyembuhan. Pada tahap prodromal, demam bisa mencapai lebih dari 38,5 derajat celcius, disertai batuk, pilek, mata merah dan berair, serta bintik putih kecil di bagian dalam pipi (koplik spots). “Pada hari pertama hingga ketiga, anak mengalami demam tinggi yang sulit diturunkan dengan obat, kemudian pada hari ke-4 hingga ke-6, muncul ruam merah yang bermula dari kepala dan menyebar ke seluruh tubuh. Batuk, pilek, dan mata merah juga merupakan gejala khas campak,” jelas Prof Edi.

Ruam yang muncul pada hari keempat biasanya dimulai dari kepala dan kemudian menyebar ke seluruh tubuh. Tahap ini berlangsung selama 5-6 hari sebelum masuk ke tahap penyembuhan. “Setelah ruam muncul, pada hari ke-3 hingga ke-4, tubuh akan memasuki tahap penyembuhan, demam akan turun, dan bekas ruam akan berwarna hitam (hiperpigmentasi) sebelum terkuping dan sembuh,” tambah Prof Edi.

Beberapa komplikasi yang sering terjadi akibat campak meliputi radang paru, diare, radang otak, hingga radang telinga. Faktor risiko campak antara lain status imunitas rendah, gizi buruk, penggunaan obat steroid jangka panjang, serta perjalanan ke daerah endemis tanpa imunisasi. “Anak-anak yang antibodi imunisasi sebelumnya hilang, misalnya setelah sembilan bulan, imunitas akan menurun sekitar empat tahun kemudian, sehingga risiko terkena campak akan lebih tinggi,” ujar Prof Edi.

Faktor-faktor yang membuat campak menjadi berat termasuk malnutrisi, imunitas rendah, ibu hamil, dan kekurangan vitamin A.

Campak adalah penyakit yang serius, tetapi dengan pengetahuan yang tepat dan tindakan pencegahan seperti vaksinasi, risiko terkena penyakit ini dapat dihindari. Jaga imunitas tubuh, konsumsi makanan bergizi, dan pastikan anak-anak telah divaksinasi untuk melindungi diri dan keluarga dari campak.

Baca Berita dan Info Kesehatan lainnya di Seputar Kesehatan Page

Tinggalkan Balasan