Sebuah penelitian terbaru yang melibatkan 183.012 orang dewasa dan 2.429 anak berusia 8 hingga 10 tahun, dianalisis oleh tim peneliti dari UK Dementia Research Institute dan Imperial College London. Data ini diperoleh dari enam studi kesehatan jangka panjang. Para responden dewasa diberi survei tentang frekuensi mereka mengalami mimpi buruk, kemudian kondisi kesehatan mereka dipantau selama 19 tahun. Sementara itu, frekuensi mimpi buruk anak-anak dilaporkan langsung oleh orang tuanya.
Dalam penelitian ini, para ilmuwan menggunakan dua metode untuk mengukur penuaan biologis. Untuk anak-anak, mereka memeriksa panjang telomer, yaitu bagian kecil DNA yang menunjukkan seberapa cepat sel tubuh menua. Untuk kelompok dewasa, ditambahkan pula penggunaan jam epigenetik terbaru sebagai indikator penuaan sel.
Hasil penelitian mengungkapkan bahwa mereka yang mengalami mimpi buruk lebih dari tiga kali dalam seminggu memiliki risiko kematian dini yang tiga kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang jarang atau tidak pernah mengalami mimpi buruk. Bahkan, orang yang hanya mengalami mimpi buruk secara bulanan juga menunjukkan penuaan yang lebih cepat dan risiko kematian yang lebih tinggi. Penelitian ini dipublikasikan dalam Kongres European Academy of Neurology 2025.
Data menunjukkan bahwa mimpi buruk menjadi indikator yang lebih kuat untuk memprediksi kematian dini dibanding dengan faktor-faktor seperti merokok, obesitas, atau kurangnya aktivitas fisik. Dokter Abidemi Otaiku dari Imperial College London menjelaskan bahwa otak saat tidur tidak bisa membedakan antara mimpi dan realitas, sehingga mimpi buruk sering memicu respons stres yang intens, seperti detak jantung cepat dan keringat dingin. Hal ini dapat menyebabkan stres kronis dan meningkatkan produksi hormon kortisol, yang terhubung dengan penuaan sel yang lebih cepat.
Selain itu, mimpi buruk mengganggu kualitas dan durasi tidur, menghambat proses perbaikan sel yang penting terjadi pada malam hari. Kombinasi antara stres berkepanjangan dan tidur yang terganggu kemungkinan besar mempengaruhi kesehatan secara keseluruhan. Oleh karena itu, mendorong pentingnya mengatasi mimpi buruk untuk menjaga kesehatan jangka panjang.
Studi ini menegaskan bahwa kualitas tidur memainkan peran penting dalam kesehatan. Mimpi buruk bukan hanya gangguan sementara, tetapi dapat menjadi indikator serius tentang kondisi kesehatan jangka panjang. Meskipun hubungan antara mimpi buruk dan kematian dini masih kompleks, hasil penelitian ini memberikan bukti kuat bahwa perhatian terhadap kesehatan mental dan tidur harus menjadi prioritas.
Mimpi buruk bukan hanya mengalami saat tidur, tapi bisa menjadi peringatan awal tentang risiko kesehatan yang lebih besar. Dengan mengetahui ini, kita bisa lebih bijak dalam menjaga kesehatan tubuh dan pikiran, mulai dari mengatur pola tidur hingga mengelola stres sehari-hari.
Baca Berita dan Info Kesehatan lainnya di Seputar Kesehatan Page

Saya adalah jurnalis di thecuy.com yang fokus menghadirkan berita terkini, analisis mendalam, dan informasi terpercaya seputar perkembangan dunia finansial, bisnis, teknologi, dan isu-isu terkini yang relevan bagi pembaca Indonesia.
Sebagai jurnalis, saya berkomitmen untuk:
Menyajikan berita yang akurasi dan faktanya terverifikasi.
Menulis dengan bahasa yang mudah dipahami, namun tetap menjaga integritas jurnalistik.
Menghadirkan laporan mendalam yang memberi perspektif baru bagi pembaca.
Di thecuy.com, saya tidak hanya melaporkan berita, tetapi juga berupaya menganalisis tren agar pembaca dapat memahami konteks di balik setiap peristiwa.
📌 Bidang Liputan Utama:
Berita Terbaru & ekonomi, keuangan.
Perkembangan teknologi dan inovasi digital.
Tren bisnis dan investasi.
Misi saya adalah membantu pembaca mendapatkan informasi yang cepat, akurat, dan dapat dipercaya, sehingga mereka bisa membuat keputusan yang lebih cerdas dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia usaha.
📞 Kontak
Untuk kerja sama media atau wawancara, silakan hubungi melalui halaman Kontak thecuy.com atau email langsung ke admin@thecuy.com.