Imbau Gerindra DKI untuk Pendemo Jaga Sarana dan Prasarana, Hindari Kerugian Warga

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Ketua Fraksi Gerindra DPRD DKI Jakarta, Rani Mauliani, telah memberikan tanggapan terkait enambelas halte Transjakarta yang mengalami kerusakan akibat demonstrasi yang berubah menjadi kerusuhan pada Jumat malam (29/8). Dia mengingatkan agar peserta aksi jangan lagi merusak fasilitas umum karena dampaknya akan dirasakan oleh warga. Dalam percakapan dengan wartawan pada Sabtu (30/8/2025), Rani menegaskan bahwa kerusakan terhadap fasilitas umum akan merugikan masyarakat luas yang bergantung pada sarana tersebut.

Ia menambahkan bahwa merusak transportasi umum berarti merusak fasilitas yang dibutuhkan oleh semua keluarga. Semua warga memang memiliki kebutuhan yang sama terhadap prasarana publik. Oleh karena itu, Rani mengajak masyarakat untuk saling mengingatkan agar tetap menjaga kondusi kota. Ia menolak aksi demonstrasi yang tidak bertanggung jawab, namun mendorong penyampaian aspirasi dengan cara yang santun dan baik.

Selanjutnya, Rani meminta agar masyarakat jangan mudah terpancing emosi dan berbuat anarkis. Ia menekankan bahwa Indonesia dikenal dengan sikap santun dan budaya yang baik, sehingga peserta demonstrasi harus tetap mengontrol emosi dan menjaga kesantunan.

Dalam kejadian tersebut, enam halte Transjakarta terbakar dan enam belas halte lainnya mengalami kerusakan atau vandalisme. Kepala Departemen Humas dan CSR Transjakarta, Ayu Wardhani, mengkonfirmasi hal tersebut melalui pernyataan kepada wartawan pada Sabtu (30/8). Halte-halte yang terbakar antara lain Halte Polda Metro Jaya, Halte Senen Toyota Rangga, Halte Sentral Senen, Halte Senayan Bank DKI, Halte Gerbang Pemuda, dan Halte Bundaran Senayan. Sedangkan halte yang rusak meliputi Halte Bendungan Hilir, Halte Kwitang, Halte Kampung Melayu, Halte Kramat Sentiong, Halte Bidara Cina, Halte Cililitan, Halte Semanggi, Halte Petamburan, Halte Widya Candra Telkomsel, Halte Jatinegara, Halte Kejaksaan Agung, Halte Matraman Baru, Halte Pemuda Pramuka, Halte Masjid Agung, Halte Non BRT Gelora Bung Karno 1, dan Halte Non BRT Polda Metro Jaya 1.

Dalam konteks demonstrasi dan kerusakan infrastruktur umum, penting untuk memahami bahwa aksi yang tidak terkontrol akan memiliki dampak negatif pada masyarakat luas. Studi kasus menunjukkan bahwa kerusakan fasilitas umum tidak hanya menambah beban biaya perbaikan, tetapi juga mengganggu kenyamanan warga sehari-hari. Selain itu, kerusakan ini juga dapat mempengaruhi image kota dan mengurangi ketertarikan investasi.

Sebagai masyarakat, kami memiliki tanggung jawab untuk menjaga fasilitas umum yang telah ada. Dengan menjaga kesantunan dan menjalankan aspirasi dengan bijak, kita bisa mencapai perubahan yang positif tanpa merugikan orang lain. Jaga hati, jiwa, dan pikiran, agar Jakarta tetap kondusif dan nyaman bagi semua warga.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan