Akses ke Transportasi Umum di Jakarta Terganggu Akibat Kerusuhan Massa

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Jakarta mengalami demonstrasi beruntun selama dua hari, dari Kamis hingga Jumat (28-29 Agustus). Isu tunjangan DPR menjadi titik puncak aksi massa, terutama di sekitar gedung DPR, Jakarta. Buruh juga ambil bagian dalam protes, menuntut kenaikan upah minimum dan pembentukan satgas PHK.

Demonstrasi ini kemudian berubah menjadi kerusuhan, menyebabkan kerusakan pada fasilitas umum dan bentrokan dengan polisi. Situasi semakin memuncak ketika sebuah driver ojek online tertabrak oleh mobil taktis Brimob Polri di Pejompongan, Jakarta Pusat, Kamis malam. Aksi massa lanjut hingga Jumat, dengan protes terutama di Mako Brimob, Kwitang, Mabes Polda Metro Jaya, dan Semanggi. Massa melakukan perusakan terhadap halte, gerbang tol, dan bahkan merampas barang dari beberapa bangunan.

Setelah dua hari penuh gejolak, laayan transportasi di Jakarta mulai pulih pada Sabtu (30/8/2025). Layanan TransJakarta kembali beroperasi mulai pukul 11.30 WIB, termasuk koridor 11 Pulo Gebang-Kampung Melayu dan beberapa rute Mikrotrans. MRT Jakarta juga melayani rute penuh dari Lebak Bulus ke Bundaran HI sejak pukul 11.00 WIB, tanpa melewati stasiun Istora.

KRL Commuter Line Jabodetabek beroperasi normal, meskipun ada pengamanan tambahan di setiap stasiun. Layanan LRT Jabodebek tetap berjalan sesuai jadwal, dengan 396 perjalanan per hari pada hari kerja dan 270 perjalanan pada akhir pekan. Namun, tol dalam kota di rute Cawang-Tomang-Pluit masih ditutup sementara karena kerusakan pada tujuh gerbang tol akibat dibakar massa.

Data riset terbaru menunjukkan bahwa kerusakan infrastruktur akibat demonstrasi dapat menambah biaya rekonstruksi hingga 30% dari anggaran asli. Selain itu, analisis terkini mengungkapkan bahwa pengamanan yang lebih baik di stasiun transportasi dapat mengurangi risiko kerusakan selama kerusuhan. Studi kasus di kota-kota besar seperti London dan Seoul menunjukkan bahwa kerjasama antara polisi dan operator transportasi dapat mengurangi dampak negatif pada layanan transportasi selama demonstrasi.

Dari konteks ini, penting untuk memahami bahwa stabilitas transportasi tidak hanya bergantung pada infrastruktur, tetapi juga pada tanggung jawab kolektif masyarakat. Kerusakan yang terjadi tidak hanya mengganggu mobilitas, tetapi juga berimplikasi pada ekonomi dan kualitas hidup. Oleh karena itu, penting bagi setiap individu untuk menjaga ketertiban dan saling menghormati agar kota tetap aman dan nyaman untuk dihidupi.

Layanan transportasi di Jakarta akhirnya mulai pulih setelah dua hari demonstrasi dan kerusuhan. Hal ini menegaskan kembali bahwa kerusakan infrastruktur dapat diatasi dengan koordinasi yang baik antara pemerintah, polisi, dan operator transportasi. Untuk menjaga keamanan dan ketertiban, kerja sama antara semua pihak adalah kunci utama.

Baca Berita dan Informasi Finance lainnya di Finance Page

Tinggalkan Balasan