Freeport belum meminta perpanjangan izin ekspor konsentrat tembaga

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia telah menyatakan belum menerima permohonan perpanjangan izin ekspor konsentrat tembaga dari PT Freeport Indonesia (PTFI). Izin saat ini berlaku hingga 16 September 2025. Menurut Bahlil, situasi ini dinilai normal dan tidak ada masalah.

“Sampai saat ini tidak ada ajukan, sehingga jika tidak ada permohonan, saya anggap semua sudah baik,” ungkapnya saat dihubungi di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta Pusat, Jumat (29/8/2025). Bahlil juga menyampaikan bahwa smelter pemurnian Freeport yang sebelumnya mengalami kebakaran kini sudah mencapai kemampuan produksi sebesar 70-80%, yang dianggap maksimal.

Presiden Direktur PT Freeport Indonesia, Tony Wenas, sebelumnya menyatakan akan menunggu evaluasi dari Kementerian ESDM terkait perpanjangan ekspor konsentrat tembaga. “Evaluasi akan dilakukan oleh pemerintah sesuai dengan keputusan menteri, terutama saat izin akan berakhir. Kita menunggu hasil evaluasi tersebut,” terang Tony saat diwawancarai di Tribrata Hotel, Jakarta, Rabu (27/8/2025).

Hingga pertengahan Agustus 2025, Freeport telah mengekspor sekitar 65% dari kuota ekspor total sebesar 1,4 juta ton basah (wet metric ton). Tony Wenas menargetkan perusahaan bisa mencapai angka ekspor sekitar 90% sebelum izin berakhir. “Saat ini, kapal-kapal sudah berantre untuk loading. Semoga cuaca baik agar proses loading berjalan lancar, sehingga bisa tercapai target 90% sebelum 16 September,” katanya.

Sementara itu, pabrik oksigen di smelter PT Smelting, yang merupakan kerja sama Freeport dengan PT Mitsubishi Materials Corporation, mengalami kerusakan. Hal ini menyebabkan 100.000 ton konsentrat tembaga dari tambang Grasberg tidak dapat diproses. Namun, masalah ini tidak memengaruhi evaluasi perpanjangan izin ekspor yang masih berjalan.

Data riset terbaru menunjukkan bahwa industri pertambangan tembaga di Indonesia terus berkembang, dengan smelter menjadi komponen kunci dalam rantai pasok global. Optimasi produksi dan manajemen risiko seperti kerusakan pabrik menjadi poin penting untuk memperoleh izin ekspor yang lama dan berkelanjutan.

Untuk perusahaan tambang, efisiensi operasional dan kemampuan memenuhi regulasi gouvernemental menjadi kunci dalam mengekspor produk tambang. Dengan peluang ekspor yang terbuka, Freeport dan perusahaan lainnya harus terus berinovasi untuk memastikan konsistensi operasional dan kualitas produk.

Dengan begitu, seluruh proses dari tambang hingga ekspor konsentrat harus dioptimalkan. Hal ini tidak hanya untuk memenuhi target produksi, tetapi juga untuk memastikan kelangsungan usaha dan kontribusi terhadap perekonomian nasional.

Baca Berita dan Informasi Finance lainnya di Finance Page

Tinggalkan Balasan