Pelita Air telah menyelenggarakan penerbangan perdana rute Jakarta-Bali dengan menggunakan bahan bakar yang terbuat dari minyak goreng bekas, lebih dikenal sebagai minyak jelantah (Used Cooking Oil – UCO). Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM, Dadan Kusdiana, yang mewakili Menteri ESDM, menjelaskan bahwa inisiatif ini merupakan karya Pertamina (Persero) dengan bahan bakar yang diberi label Sustainable Aviation Fuel (SAF). Bahan bakar ini tidak hanya menghasilkan energi bersih, tetapi juga mampu mengurangi emisi karbon dan ramah lingkungan. Menurut Dadan, langkah ini sejajar dengan program prioritas Presiden Prabowo yang berfokus pada ketahanan dan kemandirian energi.
“Inisiatif ini merupakan bagian dari rencana Asta Cita yang harus dijalankan. Kita tidak hanya berfokus pada ketahanan energi, tetapi juga pada kemandirian yang lebih kuat,” ujar Dadan dalam keterangan tertulis yang dikutip pada Jumat, 22 Agustus 2025. Pertamina mengklaim bahwa SAF berbahan baku UCO mampu mengurangi emisi karbon hingga 84% jika dibandingkan dengan avtur fosil. Hal ini menjadi poin utama dari inovasi yang dikembangkan di Kilang RU IV Cilacap, karena menawarkan kesempatan nyata bagi industri penerbangan untuk mengurangi jejak karbon tanpa mengorbankan keselamatan dan kinerja pesawat.
Dari sudut teknis, bioavtur yang diproduksi di RU IV Cilacap telah memenuhi standar kualitas nasional berdasarkan Surat Keputusan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Nomor 70 Tahun 2025, serta standar internasional ASTM D1655 dan Defstan 91-091. Hal ini penting agar bahan bakar dapat digunakan dengan aman pada pesawat terbang. Untuk memastikan suplai bahan baku yang stabil, Pertamina telah mengembangkan program pengumpulan minyak jelantah melalui 35 titik strategis yang menyediakan kemudahan bagi masyarakat untuk mengelola limbah rumah tangga serta mendapatkan insentif berupa saldo rupiah.
Dadan menegaskan bahwa transisi energi bersih di Indonesia bukan hanya sebuah wacana, tetapi berbagai langkah praktis seperti pemanfaatan bioenergi, integrasi teknologi kilang, dan partisipasi masyarakat dalam pasokan bahan bakar. Namun, ada tantangan yang masih harus ditangani, terutama dalam pengembangan bioetanol dan penguatan kerjasama antar instansi. “Pertamina bersama semua stakeholder telah membuktikan kemampuan Indonesia dalam menghasilkan biodiesel terbaik di dunia. Tetapi untuk bioetanol, masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan,” kata Dadan.
Pengembangan SAF ini tidak terjadi secara spontan. Sejak 2021, kolaborasi Pertamina dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) telah menghasilkan bahan bakar dengan campuran bioavtur hingga 2,4% (J2,4) melalui proses coprocessing di TDHT 1 RU IV Cilacap. Uji coba pertama dilakukan pada Oktober 2021 dengan pesawat militer CN235-200 FTB rute Bandung-Jakarta. Dua tahun kemudian, Oktober 2023, pengujian dilanjutkan pada pesawat komersial Boeing 737-800 milik Garuda dengan rute Jakarta-Solo-Jakarta, yang membuktikan bahwa bahan bakar hijau siap digunakan pada armada pesawat secara luas.
Direktur Utama KPI, Taufik Aditiyawarman, menyatakan bahwa penerbangan ini bukan hanya perjalanan biasa, tetapi tanda transisi energi yang semakin nyata di Indonesia. “Pertamina SAF adalah langkah besar dalam aviasi Indonesia. Ini menunjukkan kemampuan KPI dalam memproduksi bahan bakar pesawat masa depan yang ramah lingkungan,” katanya. Produk ini diproduksi di Kilang Cilacap dan telah lolos berbagai uji laboratorium, termasuk di Lemigas. Taufik juga mengungkapkan bahwa produksi SAF akan diperluas ke Kilang Dumai dan Kilang Balongan.
Proses produksi SAF menggunakan teknologi co-processing dengan Katalis Merah Putih buatan dalam negeri, sehingga memenuhi standar internasional ASTM D1655 dan DefStan 91-091. Menurut Taufik, SAF Pertamina tidak kalah kualitas dengan produk serupa di negara lain, dengan reduksi emisi karbon hingga 81% dibanding avtur fosil. “Pertamina SAF merupakan bioavtur berkelanjutan pertama di Indonesia dengan sertifikat internasional ISCC CORSIA,” tambah Taufik.
Titik beku SAF Pertamina juga melampaui standar internasional, yakni minus 47 derajat Celcius, menjadikannya aman digunakan di ketinggian ekstrem. “Pertamina SAF tidak akan membeku dalam kondisi ekstrem, sehingga aman selama penerbangan. Kualitas ini bahkan melebihi standar internasional,” ujar Taufik. Inovasi ini memperkuat posisi Indonesia dalam perjalanan menuju penerbangan yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Penerbangan dengan bahan bakar ramah lingkungan buatan dalam negeri bukan hanya mengurangi emisi karbon, tetapi juga memperkuat kemandirian energi Indonesia. Dengan dukungan teknologi dan kerjasama antar lembaga, langkah ini bisa menjadi model bagi industri penerbangan global. Saat dunia berjuang untuk mengurangi dampak perubahan iklim, inisiatif seperti ini menunjukkan bahwa solusi hijau bukan hanya mungkin, tetapi juga realistis dan efisien. Indonesia telah membuktikan bahwa transisi energi bukan sekadar wacana, tetapi kenyataan yang bisa dibangun bersama.
Baca Berita dan Informasi Finance lainnya di Finance Page

Owner Thecuy.com