Banjir dan Longsor Tewaskan 321 Warga di Pakistan

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Di wilayah utara Pakistan, banjir bandang dan tanah longsor melanda dengan kekuatan yang menewaskan ratusan jiwa. Bencana ini dipicu oleh curah hujan monsun yang ekstrem, menciptakan kondisi yang mengerikan yang dipersepsikan warga setempat sebagai “kiamat.” Menurut laporan pejabat nasional dan lokal Pakistan yang dirangkum AFP pada Sabtu, 16 Agustus 2025, sebanyak 180 korban jiwa terjadi di Provinsi Khyber Pakhtunkhwa.

Otoritas Manajemen Bencana Nasional Pakistan menambahkan informasi bahwa sembilan korban lainnya meninggal di wilayah Kashmir yang dikuasai Pakistan, sementara lima jiwa lainnya tewas di Gilgit-Baltistan. Kebanyakan dari korban kehidupan karena banjir bandang dan keruntuhan rumah, termasuk 19 wanita dan 17 anak-anak. Selain itulah, 28 orang lainnya mengalami luka-luka akibat bencana ini.

Lima orang tambahan, termasuk dua pilot, tewas ketika helikopter pemerintah Provinsi Khyber Pakhtunkhwa jatuh akibat cuaca buruk saat dalam misi penyelamatan. Ali Amin Gandapur, kepala menteri provinsi tersebut, mengidentifikasi distrik Buner, Bajaur, Mansehra, dan Battagram sebagai daerah dengan dampak terkenal. Di Bajaur, salah satu distrik suku yang berbatasan dengan Afghanistan, kerumunan warga berkumpul di sekitar ekskavator yang menggali area perbukitan yang tertutup lumpur. Upacara pemakaman diadakan di area rumput dekat dengan beberapa jenazah yang tertutup selimut, sementara orang-orang berkabung di depan.

Azizullah, penduduk distrik Buner, mengisahkan pengalaman menakutkan saat banjir melanda. “Aku mendengar suara gembungan yang keras, seperti gunung longsor. Ketika keluar, lihat seluruh lingkungan berguncang, seolah-olah akhir dunia telah tiba,” kutipan Azizullah kepada AFP. Documentasi korban jiwa dan luka-luka terus bertambah di Buner.

Warga setempat seolah-olah mengalami penglihatan kiamat akibat kekuatan bencana alam yang luar biasa. Azizullah mengungkapkan, “Aku pikir itu kiamat. Tanah berguncang karena air deras, dan rasanya kematian menatapku.” Badan meteorologi lokal telah mengeluarkan peringatan hujan lebat bagi wilayah barat laut Pakistan, memintanya menghindari aktivitas tak perlu di daerah rentan.

Hari berkabung diumumkan pemerintah Khyber Pakhtunkhwa pada Sabtu waktu setempat. Bendera setengah tiang akan dikibarkan di seluruh provinsi, dan jenazah korban akan dimakamkan dengan penghormatan negara. Ali Amin Gandapur, kepala menteri, menyatakan hal ini melalui pernyataan resmi.

Petugas penyelamat di Pakistan terus menuangkan usaha untuk mengungkap jenazah dari puing-puing akibat banjir dan tanah longsor yang dipicu hujan monsun berat di wilayah utara negara tersebut. Dalam jangka waktu 48 jam terakhir, jumlah korban jiwa telah mencapai setidaknya 321 orang. Otoritas Manajemen Bencana Provinsi Khyber Pakhtunkhwa, seperti dilaporkan AFP pada Sabtu, 16 Agustus 2025, melaporkan bahwa 307 jiwa dari total korban tewas berada di pegunungan provinsi. Korban termasuk 15 wanita dan 13 anak-anak, sementara sembilan orang lainnya tewas di wilayah Kashmir yang dikuasai Pakistan, dan lima lainnya di Gilgit-Baltistan.

Badan penyelamat Provinsi Khyber Pakhtunkhwa menyampaikan kepada AFP bahwa sekitar 2.000 petugas terlibat dalam upaya penyelamatan jenazah di reruntuhan dan puing, serta memberikan bantuan di sembilan distrik yang terdampak. “Hujan deras, tanah longsor di beberapa area, dan jalan yang tergenang menjadi tantangan besar bagi penyaluran bantuan, terutama dalam transportasi alat berat dan ambulans,” kata juru bicara badan penyelamat, Bilal Ahmed Faizi. “Karena jalan di sebagian besar wilayah terbentuk, para petugas harus berjalan kaki untuk mencapai daerah terpencil.” Ia menambahkan, “Upaya evakuasi terus berlangsung, namun jumlah pengungsian masih rendah karena banyak korban yang kehilangan keluarga atau orang tercinta.”

Kesimpulan, bencana banjir dan tanah longsor di Pakistan bagian utara telah meninggalkan dampak tragis dengan jumlah korban jiwa mencapai 321 orang. Upaya penyelamatan dan evakuasi terus berlangsung meskipun terhambat oleh kondisi cuaca dan akses yang sulit.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan